Pemenang Alumni 55 Quiz

May 15, 2010

Team Kreatif Alumni mengucapkan terima kasih atas partisipasinya untuk mengikuti “alumni 55 quiz” maksud quiz ini tidak lain adalah mengajak semua teman2 alumni 55 mulai lulusan pertama (1984) s/d yang terakhir (2010) mengenal kembali almamaternya, salah satu diantaranya mengenal nama-nama Kepala Sekolah SMA 55 mulai periode pertama s/d yang terakhir, yaitu :

1. Bpk. Udit Muljana (Alm)
2. Bpk. H. M Idris (Alm)
3. Bpk. H Achmadi
4. Bpk. H. Drs Subardjo.
5. Bpk. H Ali Amri (Alm)
6. Bpk. H Iwa Miswari
7. Bpk. H Heruku Subagyo (Alm)
8. Bpk. Sahat Situmorang
9. Ibu Hj. Mulyati Sujono

Ucapan selamat juga kami sampaikan kepada pemenangnya yaitu :

(1) Ibu Nurhayati Manullang, guru SMA 55
(2) Ibu Yanthi Mardiani, guru SMA 55
(3) Brian Shintania, alumni 55 lulusan 2006

“alumni 55 quiz” dengan hadiahnya yang tidak seberapa akan terus kami gelar, dengan maksud dan tujuan agar aktivitas alumni 55 sebagai ajang silahturahmi dan sharing info selalu eksis setiap saat.


April 27, 2010

Hi

Menyambut “Hari Pendidikan Nasional” Team Kretif Alumni 55 membuat QUIZ. Siapakah nama-nama Kepala Sekolah SMA 55 periode pertama s/d sekarang ?

Syaratnya gampang kok :

1. Untuk alumni kirim nama, angkatan dan tahun lulusnya.
2. Untuk Para Guru nama dan bidang yg diajarkan
3. Untuk Siswa-siswi, nama dan kelas serta nama wali kelasnya.

Kirim ke salah satu alamat dibawah ini :

1. sma55duren3@yahoo.co.id
2. inbox fesbuk Alumni 55

Jawaban paling lambat tgl 14 Mei 2010, Yuk buruan ikutan !!!


Polling nama/wadah Alumni 55

April 24, 2010

Hi Teman2 Alumni 55,

Berdasarkan hasil polling sementara ttg nama / wadah alumni 55 hampir 90% masih tetap bertahan menggunakan nama IKASEMA, walaupun nama tsb sama atau digunakan oleh organisasi lain. Hasil keputusan ini nantinya ditentukan sendiri oleh Alumni 55 dari hasil yg terbanyak. Kaitan dengan itu polling ini terus disosialisasikan disamping masih menerima masukan2 yg positif.

Nama2 yang terus dijadikan ajang polling :

1. Ikasema ( ikatan alumni SMA 55)
2. Alumni 55 Network
3. Alumni 55
4. Alumni small
5. Pumma (perkumpulan alumni lima-lima)
6. Keluarga Alumni 55

Ada tambahan lainnya ?

Lampiran Hasil polling sementara :

Rika Rebecca : Kira2 klo nama na PUMMA (Perkumpulan alUmni liMa liMa)
ok gag?

Rheez A Not-so SuperMom : jgn terikat ah.. hts lbh bgs.. ALUMNI 55 NETWORK..!! Wed at 7:34pm •

Nani Kusumastuty : IKASEMA, alasannya karena penyebutannya lebih bagus.
Wed at 8:07pm •

Candra ‘Kenzie’ Mardiana Read the rest of this entry »


AKU DAN MERAH

March 21, 2010

Kubilang rembulan itu kuning keorenan
Kau bilang Merah.
Kubilang mentari itu oren kekuningan
Kau bilang Merah.
Kubilang malam itu hitam
Kau bilang Merah.
Kubilang pagi itu segar
Kau bilang Merah.
Kubilang kapas putih, daun hijau, tanah coklat, langit biru, abu abu-abu
Kau bilang semua Merah.

Kubilang cinta itu indah
Kau bilang Merah
Kubilang benci itu sakit
Kau bilang Merah.
Kubilang hidup, kebenaran, kebahagian, ketakutan adalah fana
Kau bilang Merah, Merah, Merah, Merah dan Merah.

Kubilang aku adalah aku
Kau bilang Merah.
Kubilang aku tak akan bilang apa-apa
Kau bilang Merah.
Kau bilang aku akan diam
Kau bilang Merah.
Maka kubilang merah adalah merah.
Kau bilang Merah.
Kubilang merah bukan MERAH
Kau bilang Merah.
Akhirnya aku bilang, baiklah merah, kau adalah merah, kau adalah aku
Aku adalah merah.
Tiba-tiba berbintang warna menghujam jantung dan otakku
hingga keduanya mencair menjadi merah jambu
yang terus mengalir tanpa henti……

Jakarta, 19, 03, 2010

Dicky Noviyanto, alumni 55 jurusan A4 (budaya) ’93 dan sekarang sebagai pengajar di SMAN 55 Jakarta.

Sumber gambar : http://4.bp.blogspot.com/_1VvwGijN1rA/RpkILtyGH4I/AAAAAAAAABQ/1gs4xnSModE/s1600/redhat.jpg

Pelajaran Cinta

March 6, 2010

Puisi ini saya sajikan sebagai cemilan atas pembicaraan mengenai Bisul Romantisme di forum diskusi Grup KepoMpong 55. Semoga tidak terlalu jauh dari selera para petualang sastra.

Siang itu seorang guru muda tampak tertegun di depan pintu kelas.
Keringat basahi wajah, tangan, dan telapak kaki.
Tak ada yang tahu jika guru muda sedang berkelahi dengan dirinya sendiri.
Terlalu muda baginya untuk tergesa tua
dan menerima kenyataan
bahwa ia telah kehilangan kepercayaan pada kata:
bahwa kata tak dapat mendefinisikan kata
bahwa kata tak dapat memenjara hikmah.
Dan ia dipaksa memberi pelajaran cinta
karena para guru tetua sedang sibuk mencari kitab cinta
yang terselip entah di mana.
Maka ia pun kini harus berada di tengah para siswa
yang ternyata buta cinta.
Maka waktu pun membeku siang itu.
Tersisa hanya hati yang ingin membagi.
Maka terdengar zikir sayup dari jantung yang berkata, memberi
memberi, memberi…..

Pada menit ke tujuh puluh sembilan
tangan guru muda tiba-tiba bergetar
lalu mengangkat dirinya sendiri tanpa perintah dan kuasa pemiliknya.
Seolah arketipe shaman dalam dirinya bangkit dan mengarahkannya
untuk memanggil roh-roh alam dan roh roh leluhur
yang telah lama tenggelam dalam hirup pikuk kentut teknologi.
Dalam metamorfosis kesadaran
guru muda menari melingkar di depan pintu kelas beberapa kali
lalu berdiri dengan angkuh namun bijaksana,
dan mulai membuka suara secara pelan hampir tak terdengar:
“Anak-anak, hari ini pelajaran cinta!”
(diam-diam api kundalini membakar cakra-cakra dan seluruh tubuh
guru muda sebagaimana api membakar tubuh Ibrahim dan Dewi Shinta).
“Cinta adalah kesetiaan pada kemanusiaan”
(diam-diam tanah memeluk dan menjilati tapak kaki guru muda
sebagaimana tanah memeluk Siddhārtha dan Kalijaga).
“Cinta adalah pelayan bagi penderitaan”
(diam-diam air bersekutu dengan darah mengalir keluar
dari lubang-lubang tubuh guru muda
sebagaimana anggur keluar dari luka-luka Kristus dan al-Hallaj )
“Cinta adalah kehidupan”
(diam-diam udara menjelma aurora di sekitar tubuh guru muda
sebagaimana aura terlihat berkibar di setiap benda bagi si Sejati Pecinta)
“Cinta adalah rahmat dan keadilan”
(diam-diam tubuh guru muda bergonta-ganti menjadi logam, kayu,
tanah, air, udara, api, bumi, langit, waktu, tidak ada, ada, tidak ada, ada…..
sebagaimana itu semua menjelma pada Khaidir dan si Ahmad)

Lalu pada menit ke depan puluh sembilan
kedamaian dan keberanian memeluk guru muda.
Lalu ia membuka pintu kelas.
Pintu kelas terbuka.
Dengan memejamkan mata guru muda memasuki kelas
dan langsung berdiri di depan kelas.
Sunyi.
Senyap.
Hening.
Tak ada suara.
Tak ada keributan.
Tak ada keremajaan.
Tak ada pemberontakan pada aturan.
Tak ada salam sambutan.
Guru muda membuka matanya secara perlahan.
Terperanjat!
Tak percaya pada kebenaran
bahwa ternyata kelas kosong.
Guru muda hampir emosi andaikata tak dicegah hikmah diri.
Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan,
membiarkan emosinya mengalir ke dasar bumi.
Lalu membiarkan axon dan dendrite bermain nakal di otaknya
mengakses memori, menimbang, menganalisis, dan menyimpulkan.
Ternyata!
Ternyata hari ini tanggal merah.

Benar-benar akhir Februari 2010, saat AI adiknya si Ahmed tepat empat bulan.

NB : Puisi ini juga merupakan cemilan untuk membaca tulisan catatan “Bisul Romantisme”. Jadi, silahkan bagi yang punya waktu lebih untuk membaca “Bisul Romantisme”. Terima kasih.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.