Puisi ini saya sajikan sebagai cemilan atas pembicaraan mengenai Bisul Romantisme di forum diskusi Grup KepoMpong 55. Semoga tidak terlalu jauh dari selera para petualang sastra.
Siang itu seorang guru muda tampak tertegun di depan pintu kelas.
Keringat basahi wajah, tangan, dan telapak kaki.
Tak ada yang tahu jika guru muda sedang berkelahi dengan dirinya sendiri.
Terlalu muda baginya untuk tergesa tua
dan menerima kenyataan
bahwa ia telah kehilangan kepercayaan pada kata:
bahwa kata tak dapat mendefinisikan kata
bahwa kata tak dapat memenjara hikmah.
Dan ia dipaksa memberi pelajaran cinta
karena para guru tetua sedang sibuk mencari kitab cinta
yang terselip entah di mana.
Maka ia pun kini harus berada di tengah para siswa
yang ternyata buta cinta.
Maka waktu pun membeku siang itu.
Tersisa hanya hati yang ingin membagi.
Maka terdengar zikir sayup dari jantung yang berkata, memberi
memberi, memberi…..
Pada menit ke tujuh puluh sembilan
tangan guru muda tiba-tiba bergetar
lalu mengangkat dirinya sendiri tanpa perintah dan kuasa pemiliknya.
Seolah arketipe shaman dalam dirinya bangkit dan mengarahkannya
untuk memanggil roh-roh alam dan roh roh leluhur
yang telah lama tenggelam dalam hirup pikuk kentut teknologi.
Dalam metamorfosis kesadaran
guru muda menari melingkar di depan pintu kelas beberapa kali
lalu berdiri dengan angkuh namun bijaksana,
dan mulai membuka suara secara pelan hampir tak terdengar:
“Anak-anak, hari ini pelajaran cinta!”
(diam-diam api kundalini membakar cakra-cakra dan seluruh tubuh
guru muda sebagaimana api membakar tubuh Ibrahim dan Dewi Shinta).
“Cinta adalah kesetiaan pada kemanusiaan”
(diam-diam tanah memeluk dan menjilati tapak kaki guru muda
sebagaimana tanah memeluk Siddhārtha dan Kalijaga).
“Cinta adalah pelayan bagi penderitaan”
(diam-diam air bersekutu dengan darah mengalir keluar
dari lubang-lubang tubuh guru muda
sebagaimana anggur keluar dari luka-luka Kristus dan al-Hallaj )
“Cinta adalah kehidupan”
(diam-diam udara menjelma aurora di sekitar tubuh guru muda
sebagaimana aura terlihat berkibar di setiap benda bagi si Sejati Pecinta)
“Cinta adalah rahmat dan keadilan”
(diam-diam tubuh guru muda bergonta-ganti menjadi logam, kayu,
tanah, air, udara, api, bumi, langit, waktu, tidak ada, ada, tidak ada, ada…..
sebagaimana itu semua menjelma pada Khaidir dan si Ahmad)
Lalu pada menit ke depan puluh sembilan
kedamaian dan keberanian memeluk guru muda.
Lalu ia membuka pintu kelas.
Pintu kelas terbuka.
Dengan memejamkan mata guru muda memasuki kelas
dan langsung berdiri di depan kelas.
Sunyi.
Senyap.
Hening.
Tak ada suara.
Tak ada keributan.
Tak ada keremajaan.
Tak ada pemberontakan pada aturan.
Tak ada salam sambutan.
Guru muda membuka matanya secara perlahan.
Terperanjat!
Tak percaya pada kebenaran
bahwa ternyata kelas kosong.
Guru muda hampir emosi andaikata tak dicegah hikmah diri.
Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan,
membiarkan emosinya mengalir ke dasar bumi.
Lalu membiarkan axon dan dendrite bermain nakal di otaknya
mengakses memori, menimbang, menganalisis, dan menyimpulkan.
Ternyata!
Ternyata hari ini tanggal merah.
Benar-benar akhir Februari 2010, saat AI adiknya si Ahmed tepat empat bulan.
NB : Puisi ini juga merupakan cemilan untuk membaca tulisan catatan “Bisul Romantisme”. Jadi, silahkan bagi yang punya waktu lebih untuk membaca “Bisul Romantisme”. Terima kasih.